Cikal Bakal KBWD

 

Mbah Wiryodinomo kakung-putri  kala  itu tinggal di sekitar sekolah NDM Kauman Solo, tempat kita melaksanakan halal bi halal tempo dulu. Dari sanapula awal mula cikal bakal KBWD. Mbah Wiryodinomo berputra 15 orang, putra pertama sampai ketiga meninggal pada saat balita, baru kelahiran putra ke empat yaitu ibuAmirah (mbah Wiryotenoyo putri),  dan kemudian  berturut-turut  hingga  mbah Abdul  Basir putri  sebagai putra ke  15 membawa kebahagiaan tersendiri bagi mbah Wiryodinomo.

Jika dirunut ke silsilah ke atas mbah Wiryodinomo kakung adalah keturunan ke 11 dari Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram, sedangkan mbah Wiryodinomo putri keturunan ke-12 Kanjeng Sunan Ampel. Kemudian Bp/Ibu Wiryodinomoberputra 15 orang yaitu :
  1. Khosiyah(meninggal sebelummenikah).  
  2. Asiyah (meninggal sebelummenikah). 
  3. ....anakputri (meninggal sebelummenikah). 
  4. IbuAmirah menikah dengan Bp Wiryotenoyo,berputra 12orang. 
  5. Bp Resodinomo menikah dengan Ibu Sobirdan IbuNaimah, berputra 7 orang. 
  6. Ibu Darmosutidjo, tidak berputra. 
  7. Bp Sumodinomomenikah dengan Ibu Sapawi,berputra 1orang 
  8. Ibu Hardinah menikah dengan BpAbdullah, berputra 5 orang. 
  9. Bp Maesuri, berputra 1orang. 
  10. BpNgisomAbdul Jalil menikah dengan Ibu Maesuri, berputra 2 orang. 
  11. IbuNuriyah menikah dengan Bp Mukharom, tidak berputra. 
  12. Fatimah (meninggal sebelummenikah). 
  13. bu Muzayanah menikah dengan BpAbdul Manan, berputra 3 orang. 
  14. Yahya (meninggal sebelummenikah). 
  15. Ibu SitiNaimah menikah dengan BpAbdul Basir,berputra 3 orang.
Kegiatan Mbah Wiryodinomo dan putra putrinya kala itu kalau pagi dan siang hari berdagang atau sebagai juragan batik serta ahli silaturohmi, kalau sore dan malam hari senantiasa menuntut ilmu dengan ngaji dan beribadah. 

Perlu Diketahui dan Patut Diteladani

Jika malam tiba dan langit cerah di taburi bintang-bintang, rumah-rumah mulai sepi, karena penghuninya mulai lelap dalam tidurnya. Bermacam peristiwa terjadi di berbagai penjuru dunia. Tetapi di rumah kecil di Kauman, Solo, mbah Wiryodinomo ditemani anak cucunya setiap 1/3 malam yang akhir tiba, terbangun untuk melaksanakan sholatmalam.

Konon ceritanya, pada  suatu malam keika ibu Samsudin (cucu mbah Wiryodinomo) bangun untuk  sholat mendengar  suara  berdengung seperti  suara  serombongan  lebah,  maka  bertanyalah  ibu  Samsudin  kepada  mbah Wiryodinomo tentang suara lebah itu. Mbah Wiryodinomo menjelaskan, “Itu suara para malaikat bertasbih memuji keagungan Allah SWT, yang telah menciptakan langit dan bumi seisinya”. Mendengar jawaban  itu, Ibu Samsudin bergegas mengambil  air wudhu untuk melakukan  sholat tahajud. Demikian Mbah Wiryodinomo mendidik putra- putrinya tidak banyak bicara, tapi banyak berbuat kebajikan.

Demikian juga    dengan putra-putrinya  meneruskan  model  pendidikan  seperti yang  dicontohkan  oleh mbah Wiryodinomo, yaitu menjaga silaturohmi, berbakti kepada Allah dan rosulnya, berbakti kepada kedua orang tuanya dan  senantiasa  berakhlaqul  karimah.  Maka  pada  tahun   1950-an   pada zamannya   mbah  Wiryotenoyo,  mbah Resodinomo, mbah Abdullah,  dan mbah Abdul Basir, mereka meneruskan  silaturohmi secara berkesinambungan.

Kemudian pada tahun 1960, Sepeninggal mbah Wiryotenoyo, mbah Abdullah, mbah Resodinomo, dan mbah Abdul Basir silaturohmi dihimpun dalam Keluarga Besar Wiryodinaman (KBWD).

Ada hal penting  menjadi  catatan untuk  dilanjutkan ke  anak cucu, diantaranya  adalah pola mendidik mbah Wiryodinomo, demikian juga pola mendidik antara mbah Wiryotenoyo, mbah Abdullah, mbah Abdulmanan, mbah Resodinomo.

Seperti kenangan dari Bp Joko  Suprapto, pada saat menyusun kegiatan Dana Pendidikan di rumah bapak Muh  Taslim,  Kartopuran  Solo, yang  kebetulan  datang  lengkap,  membetulkan  perkataan  mbah  Ma'ali  dan  mbah Harjosuwiryo, yaitu mensitir QS. Annisa ayat 1 tentang perintah silaturohmi dan silaturohmi harus betul-betul ikhlas karena dipantau oleh Allah sendiri. Kemudian pola mendidik mbah Wiryodinomo di rangkum oleh mbah Ma'ali seperti yang tersirat pada QS Lukman ayat  1 sampai  19. Supaya pandai bersyukur, mbah Wiryodinomo memberi contoh langsung bukan hanya dengan ceramah saja.

Yang perlu kita pegang teguh dari mbah Wiryodinomo yaitu bahwa beliau tidak hanya pandai memberi contoh tetapijuga pandai menjadi contoh. Misalnya dalam bersilaturohmi mbah Wiryodinomo (yangkemudian di contoh oleh mbah Wiryotenoyo) memberi contoh, ketika mempunyai makanan walaupun hanya sedikit saja, mbah Wiryodinomo tetap membagikan rata dan mengantarkannya kepada saudara-saudara,maksudnya agar salingmengenal satu sama lain dan menjaga silaturohmi. ”Dengan seringnya melakukan hal seperti itulah menjadikan kita   lebih saling kenal dengan saudara-saudara.”Demikian kenang pakde Prapto. 

Hal lain yang diajarkan oleh mbah Wiryodinomo adalah berbakti kepada kedua orang tua terutama kepada ibu, kemudian  sampai  masalah  sopan  santun.  Pada  akhirnya  harapan  mbah  Wiryodinomo  kepada  generasi-generasi penerus adalah ”menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting jadi orang baik”. 

LEBIH DATAIL DAPAT DISIMAK PADA DOKUMEN 50 TH KBWD

No comments:

Post a Comment

Assalaamua'alaikum. Kami adalah Keluarga Besar Wiryodinaman (KBWD). KBWD selalu bersama, tumbuh dan berkembang di Solo, Jogja, Jabodetabek, Semarang, Surabaya dan dimanapun berada, tetap terjalin tali silaturohim seperti yang diwasiatkan Bp/Ibu Wiryodinomo setelah diadakan silaturahmi yang pertama dalam halal bihalal tahun 1380 H / 1960 M. Mari kita lanjutkan terus.
Kirimkan artkel, berita keluarga atau foto : wiryodinaman@gmail.com